Ini adalah buku pertama Iwan Simatupang yang kubaca. Memang bukan novel fenomenal darinya seperti Ziarah ataupun Tegal Lurus dengan langit. Tetapi novel Kooong sungguhlah unik dan sentilan.

Hanya bermula dari hilangnya perkutut gule -perkutut yang tidak bisa berkooong milik Pak Sastro dari sangkarnya, semua kehidupan jadi gonjang-ganjing. Perkutut itu tidak istimewa sekali, bahkan cenderung biasa-biasa saja. Fisiknya biasa dan tidak bisa berkooong. Tetapi sejarah pembeliannya yang memorable membuat perkutut itu puya tempat di hati Pak Sastro. Apa perkutut itu sudah menjadi istri/anak baru bagi Pak Satro? Padahal Pak Sastro seharusnya tidak terlampau sedih, dengan hartanya yang melimpah ia bisa meminang gadis muda yang lebih cantik sebagai pengganti istri dan anaknya yg sudah meninggal.

Tetapi ternyata kehilangan perkutut tidak hanya bikin geger rumah Pak Sastro. Sedesa juag ribut mencarinya. Dan akhirnya Pak Sastro pamit pergi mencari perkutut itu dengan menitipkan semua hartanya kepada pak lurah. Dan sudah barang tentu, kekayaan yang dititipkan itu berkurang karena kerakusan orang desa.

Perjalanan Pak Sastro mencari perkutut pun dianggap sebagai perjalanan sinting. Mana ada orang dengan segebok uang susah payah mencari perkutut gule yang tidak bisa berkooong. Tetapi justru disinlah Pak Sastro menemukan sebuah arti dari keadilan dan pemenuhan ruang sepi setiap orang yang berbeda:

Kita tentu suka bistik. Tapi apakah aneh bila ada orang yang berkata: bistik memang enak, tapi berikanlah saya empal?

Pak Sastro ingin kembali ke kedalaman jiwanya. Ingin mencari sebenarnya apa yang sedang dicarinya. Apakah benar ia ingin mencair perkutut itu? Tidak. Pak Sastro ingin menjadi manusia merdeka, bebas dan tidak dikepung oleh permasalahan termasuk perihal harta yang melimpah. Maka ketika di akhir dia bertemu si perkutut, Pak Sastro membiarkannya. KArena kemerdekaan dan kebebasan adalah jiwa dan dasar manusia. Seperti jiwa dan dasar penduduk desa dalah gotong royong dan menggarap tanah sawah.

KEREN!

Read also