#2010-53#

Buku kedua ini aku baca dengan selang waktu hampir 9 bulan dari buku pertamanya. Ketika membaca buku pertamanya aku merasakan dementor effect, karena jadi nggak enak rasa, nggak enak hati, membayangkan yang dialami Pramoedya di Pulau Buru. Efek yang cukup lama untuk tidak gembira, hingga membaca buku lucu sesudahnya aku tidak bisa tertawa.

Karena itu aku akhirnya baca buku ini, dalam rangka rencana kunjungan ke rumah Pram di Bojonggede, dan wawwwww!!! Ternyata isinya manis dan menyenangkan. Membuat aku tersenyum dan terharu. Biografi masa kecilnya, curhat beliau, catatan tentang siapa ayah dan ibunya. Membuatku terpana dan terus menerus membacanya. Sampai-sampai aku menargetkan bahwa buku ini harus tamat sebelum kunjunganku ke rumah Pram akhir Mei lalu, jadi aku punya bahan untuk diskusi kehidupannya beliau. Dan ternyata tidak berhasil, berkaitan dengan suasana hati yang tidak mendukung kala itu, jadi hanya menamatkan beberapa bab yang bercerita tentang masa kecilnya. Dan membuat aku makin terpana dengan tulisan hati ini.

Kulanjutkan dengan membaca cukup lama di angkot menuju rumah Pram (akibat ketinggalan kereta). Pram, yang sangat mengagumi ibunya, yang berjuang untuk kehidupan dan pendidikan anak-anaknya. Tak heran, dalam tulisan-tulisannya, Pram banyak bercerita tentang perempuan. Tentang perempuan yang kuat dan tabah. Ah, aku jadi iri sama ibunya Pram. Bagaimana bisa hidup setegar beliau, ya?

Di rumah Pram juga diskusi soal kehidupannya, pemutaran film dokumenter, dan ngobrol-ngobrol dengan mbak Astuti. Tentu berbeda penceritaan dari buku dengan yang dituturkan oleh mbak Astuti atau film tersebut. Buku kan ditulis oleh Pram sendiri, jadi emosinya, kegembiraannya, kesedihannya tergambar lewat ungkapan kata-kata yang terangkai.

Dan akhirnya pada acara tanya jawab, aku bertanya, kenapa sih buku-buku Pram dilarang? Soalnya dari sejak aku baca Bumi Manusia dan cerita-cerita lainnya yang diterbitkan oleh Lentera, rasanya ceritanya yang begitu saja. Tidak menyinggung soal ’bahaya laten komunis’ yang ditakutkan oleh pemerintah Orba. Kalau buku ’Nyanyi Sunyi’ jilid 1 kan memang banyak menyebut nama-nama pejabat Orba, jadi kupikir karena buku ini (yang hanya terbit 10 hari lalu dilarang), maka pejabat Orba menjadi alergi terhadap buku ini.

Jawaban dari mas Ronny karena memang buku-bukunya membawa ke arus pemikiran keterbukaan, kalau mau dipahami lebih dalam (ketahuan kan kalau aku hanya terperangah oleh kata-kata saja, tapi kurang mencerna), yang ditakutkan pemerintah, rakyat yang bebas mengungkapkan pendapatnya sendiri, menjadi berani seperti tulisan-tulisannya Pram. Yang lebih lucu (mengernyitkan dahi) info dari Amang soal isi SK pelarangan buku, salah satunya adalah karena kalau buku-buku Pram diijinkan, akan ada pengidolaan buku Pram, yang berakibat dengan kenaikan harga jual secara tidak wajar. Wah, pemerintah Orba, jawaban yang kurang bisa diterima nalar kayaknya. Kalau dilarang karena takut harganya mahal, ya diperbanyak saja, ditaruh di perpustakaan. Ini jelas upaya pengkerdilan pikiran masyarakat.

Dituliskan sebagai surat kepada anak-anaknya, tentang perjalanannya di Eropa, dan sampai ke sisi-sisi kehidupan pribadinya, perasaan inco (rendah diri) yang sering dialaminya. Melihat buku ini untuk lebih mengenal siapa Pram, siapa yang membentuk pribadinya seperti sekarang ini, siapa orang-orang yang mempengaruhi tulisan-tulisannya, bagaimana sikap beliau sebenarnya. Sangat beruntung berkesempatan membaca buku ini.

Setiap generasi muda punya tempatnya, waktu dan tantangan-tantangannya sendiri. Setiap generasi punya kecenderungan patriark atas yang lebih muda punya hak untuk memberontak. Hanya pemberontakan yang diekspresikan melalui pemesuman dan penggondrongan, menolak nilai-nilai yang dihasilkan oleh generasi sebelumnya. Boleh jadi satu hal yang kurang cukup lucu.
Terserah padamu sendiri.

dari halaman terakhir.