Pada umumnya orang memahami peradaban melalui bukti-bukti fisik, sehingga peradaban dinisbatkan kepada bangunan masjid-masjid, candi-candi, gedung-gedung, dsb. Namun, orang lupa bahwa bangunan tidak akan wujud tanpa pikiran, kepercayaan, agama, ideologi, dan yang terpenting adalah ilmu pengetahuan dibalik itu semua. Jadi peradaban dan kebudayaan tidak dapat diukur dari kemajuan fisik saja. Pemahaman yang sama juga digunakan untuk melihat bangunan peradaban Islam. Peradaban Islam itu sangat komplek dan cakupannya seluas kehidupan itu sendiri. Sebab Islam adalah agama yang mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan yang bersifat menyeluruh.

Secara konseptual peradaban Islam merupakan gambaran integral bagaimana keimanan atau keyakinan dalam Islam yang rasional dan berdimensi ilmu itu memancarkan ilmu pengetahuan dan mengejawantah dalam bentuk amal-amal. Artinya ilmu berdimensi amal dan amalnya berasaskan ilmu. Keduanya—ilmu dan amal—berakumulasi memberi nutrisi kepada hati sehingga memperkuat iman. Jika ilmu tidak menambah keimanan maka ia dapat mendorong kepada kekufuran. Bab ini memaparkan bangunan peradaban Islam dari bangunan konsepnya, terutama bangunan pandangan hidupnya, dan kronologi historisnya secara simultan.